Pukul sebelas malam memang bukan ide yang baik untuk menulis dengan kondisi cukup kelelahan setelah dari jam tujuh pagi bekerja sampai jam sepuluh malam tadi mendarat dengan selamat di rumah langsung lanjut mandi. Tapi sebelum cerita ini terlupakan dari pusat memori otakku yang terkadang seperti ikan mas ini, ada baiknya aku sampaikan dulu pelajaran berharga yang aku dapatkan hari ini sebagai seorang yang sering berhubungan dengan orang sakit sehari-harinya, seorang dokter.
Hari ini saat praktek, sebenarnya sama seperti hari-hari biasa, tidak terlalu ada yang istimewa, pasien datang dan pergi, kebanyakan karena flu ringan yang dideritanya, ada juga yang ke dokter sekedar meminta surat sakit agar bisa bolos dari sekolahnya (yang tentu saja gak aku buatkan), biasa saja, sampai seorang seorang ibu paruh baya datang memeriksakan dirinya saat praktek sudah akan tutup.
Ibu tersebut, sebut saja XYZ (bukan inisial sebenarnya), umur 52 tahun (bukan umur sebenarnya, tapi sekitar umur segitu). Sama seperti saat pasien-pasien lain yang memeriksakan dirinya, aku sudah mulai memperhatikan secara sekilas tapi cukup seksama setiap pasien dari pertama kali masuk ke ruang praktek sampai dia duduk di kursi di depanku untuk mulai menceritakan keluhan yang dirasakan. Secara ya, diriku bukan dokter House yang dari seberang ruangan saja sambil terpincang-pincang bisa mendiagnosis pasien dengan diagnosis epic! *diagnosis epic tu apa coba..-_-* . Aku butuh memperhatikan seorang pasien dari awal, dari cara seorang pasien masuk, aku yang tergolong nge-pas ilmu ini berharap bisa mengira-ngira minimal kondisi umum pasien, status kesadarannya, sampai kira-kira seberapa parah penyakit yang dideritanya.
Saat pertama kali Ny. XYZ datang, semua tampak normal, cara dia menyapa normal, pandangannya normal, cara berjalan normal, semuanya tampak normal, kalo saja Ny. XYZ ini membawa ransel dan memakai blus, mungkin sudah kukira dia salah satu sales dari pabrik obat..
Ny XYZ datang dengan keluhan sedikit sesak di dada kirinya. Keluhan dirasakan semenjak seminggu yang lalu setelah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta. Ny XYZ ini termasuk jenis pasien yang disukai oleh dokter, karena dapat menceritakan segala keluhannya yang bermakna medis secara detil tanpa perlu ditanyakan macam-macam. Ah, andai pasien saat aku ujian praktek OSCE dulu semenyenangkan ini, pasti IP-ku bisa naik beberapa desimal *maaf, agak curhat*. Pemeriksaan pun aku lakukan, vital sign normal, jantung dan paru-nya terdengar meyakinkan, perutnya pun cukup percaya diri untuk berkata “bukan aku yang sakit bro”.. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, otak sekolah dokterku meyakinkan aku, bahwa ini fatigue (kelelahan) biasa. Dikasih multivitamin biasa dan diminta istirahat juga nanti membaik.
Tapi ada yang terasa kurang, otak kursus bahasa inggris-ku bilang, “there’s something missing here..” Ada sesuatu yang membuatku belum bisa merelakan kepergian Ny. XYZ beranjak dari kursi panas pasien ini (emang panas, yang duduk disitu kan kebanyakan yang demam-demam, true story..) dan meninggalkan peraduan hubungan dokter-pasien yang sudah terjalin kurang lebih 10 menit itu. Sejenak secara slow-motion semacam Robert Downey Jr. di Sherlock Holmes yang sedang beraksi, aku mulai mengeluarkan kemampuan deduksiku menganalisa satu per satu parameter dari pasien ini yang mungkin terlewatkan olehku. (ngarepnya sih bisa tampak sekeren di film sherlock holmes tampang slow motionku, moga-moga yang tampak bukan tampang blo’on mangap di depan pasien sambil ngiler, well moga-moga nggak..)
Penampakan pasien secara umum biasa saja, cara bicaranya juga meyakinkan khas orang-orang golongan menengah dari kota besar, gerak tubuhnya oke, responnya terhadap komunikasi yang berjalan juga bagus, sampai pada akhirnya ada momen hening yang cukup panjang dalam diriku…………………………….(oke,cukup)…………. Lalu aku berkata dalam hati.. “That’s it! Aku tau apa yang aneh!! Tatapannya! dan Senyumnya!! Yang terlewatkan olehku adalah Tatapan dan Senyumannya!! M150! BISA!!” *pardon my randomness, it’s almost midnight and i’m pretty drained already*
Memang benar kata para pujangga, mata tidak akan pernah berbohong. Dibalik pancaran keyakinan dari tatapan mata Ny.XYZ, nampak ada keraguan dan harapan, tatapannya memang tidak kosong, tapi ada beberapa momen dimana aku bisa melihat dia ragu, entah dia ragu akan masalah yang dihadapinya, atau ragu dengan kemampuan dokter yang sedang mengobati dirinya *tentu saja yang pertama… ya kan?? YA KAN??* ….
Senyumannya juga berbeda. Setelah aku ingat-ingat lagi, Ny. XYZ semenjak masuk ke ruang periksa tadi, tidak pernah sedetikpun senyum dengan lepas. Padahal dengan berbincang-bincang sebentar saja, kita dapat menilai bahwa Ny. XYZ orang yang cukup menyenangkan, orang yang ketika senyum harusnya lepas. Tapi tidak saat itu, senyumnya selalu tertahan. Seolah-olah masalah yang dialaminya ikut menahan 22 otot wajah yang digunakan manusia untuk tersenyum agar tidak tersenyum dengan lepas.
Bak Dokter House yang sedang menemukan pencerahan + zoom in dari jauh.. Aku sampai pada kesimpulan keduaku. Ny. XYZ ini bukan fatigue biasa. Fatigue Ny. XYZ ini terutama disebabkan karena dirinya sedang menghadapi masalah. Masalah yang cukup pelik yang akhirnya mengganggu kesehatannya,.
Sebenarnya hal ini sudah aku tanyakan sebelumnya, sebagai standar dari proses anamnesisku kepada pasien, aku menanyakan apakah sedang stress apa tidak. Sebelumnya Ny. XYZ bilang biasa saja. Melihat senyuman dan tatapan mata Ny. XYZ yang berkata sebaliknya. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya… “Ibu yakin tidak ada masalah…? stres yang tidak teratasi dengan baik dapat menganggu kondisi kesehatan juga lho bu…”
……………….(momen hening)……………….(Ny. XYZ menghela nafas panjang)………………….(bosan, aku pun ngupil, hehe nggak ding)……… Ny. XYZ menjawab.. “Sebenarnya,,, Iya Dok…” Lalu keluarlah masalah yang sedari tadi dipendam oleh Ny XYZ. Ternyata Ny XYZ sedang memiliki masalah keluarga, detilnya gak bisa diceritakan disini yah, it’s my patient’s privacy. Masalah yang cukup pelik sehingga membuat Ny. XYZ ternyata sering merasa gelisah dan sesak. Keluar juga keluhan lainnya yang tadi tidak dikeluarkan oleh Ny. XYZ, sulit tidur seminggu terakhir.
Dengan berkaca-kaca, Ny XYZ menceritakan detil permasalahan yang dihadapi dari A-Z, karena kulihat sudah tidak ada lagi pasien di luar yang menunggu, aku pun tetap duduk di kursiku, kucondongkan badanku sedikit kedepan, dan tanpa interupsi, kudengarkan semua masalahnya. Bukan untuk memberikan solusi, karena tentunya aku bukan Mario Teguh, agak aneh juga kalo setelah mendengar permasalahan Ny. XYZ, aku ganti jas abu-abu lalu berkata pada dirinya, supppeerr.. Aku disitu mendengarkan cuman untuk menunjukkan pada Ny XYZ, bahwa dia gak sendiri, bahwa sebagai dokter, aku bersedia mendengarkan keluh kesahnya, dan memberikan dukungan agar dia bisa mendapatkan keyakinan dan kepercayaan-dirinya kembali. Dari keyakinan tersebutlah aku berharap, keluhan cemasnya lalu berkurang, keluhan sesaknya membaik, lalu Ny. XYZ bisa cukup kuat secara fisik untuk menghadapi masalah keluarganya itu dengan sebaik-baiknya.
Setelah kembali mengingat-ingat praktek bagian kesehatan jiwa-ku yang kerjaannya dulu banyak jalan-jalannya itu, aku pun cukup yakin bahwa Ny. XYZ mengalami gangguan cemas, lalu kutambahkan obat anti cemas ke dalam resep yang aku serahkan ke dia.
Akhirnya ada rasa lega dalam hati, bukan karena akhirnya bisa segera pulang setelah sesi curhat yang menghabiskan waktu hampir satu jam itu, tapi karena pada akhir sesi, aku bisa melihat senyum lepas dari Ny. XYZ, padahal aku tidak melakukan apa-apa, memberikan solusi pun tidak, yang kulakukan sekedar mendengarkan dan memberikan beberapa pertimbangan saja, tidak lebih dari itu.
Melihat senyum yang mengembang lepas, dan tatapan mata yang tidak ragu lagi, aku pun merelakan Ny. XYZ untuk pergi..*sayup sayup terdengar lagu, “Sepanjang Jalan Kenangan”…#makingakjelas * Sebelum pergi, Ny XYZ mengatakan sesuatu yang membuatku merasa sangat berarti menjadi seorang dokter dan menghapus kegalauan yang ada pada diriku, sebuah kalimat sederhana.. “Terima kasih dok, saya merasa agak mendingan sekarang…”
Dari Ny. XYZ aku seperti mendapatkan pelajaran sekaligus pengingat kembali, bahwa senjata rahasia seorang dokter bukanlah pemeriksaan laboratorium termutakhir atau alat kedokteran tercanggih. Terkadang sebagai dokter, aku sering melupakan bahwa komunikasi lah yang menjadi modal utama seorang dokter. Dari komunikasi yang baik, dan pemeriksaan yang cukup, dokter sudah bisa memberikan yang terbaik sebagai modal menyembuhkan pasien. Setiap pasien punya permasalahan yang berbeda, adalah tugasku sebagai dokter untuk dalam waktu singkat bisa menyimpulkan permasalahan kesehatan yang ada pada pasien tersebut dan memberikan solusi terbaik untuk pasien yang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya padaku untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya.
Dokter itu sesungguhnya, senjata rahasianya ada dua, saat mendengar dia memahami, saat berbicara, pasien meyakini..


Mantep, mas
Jarang-jarang ada dokter mau ndengerin pasien lama. Sukses yo
Karena memang mungkin waktunya yg susah.. Para dasarnya semua dokter bersedia memberikan yg terbaik kok untuk setiap pasiennya.. : )
super my bro…
Hehe, thx ndra.. : )
wuih keren dr. Denta..kapan-kapan aku mau sakit ahh..*maksudnyaa….
hahaha.. gimana, dah berhasil usahanya? butuh tips dariku lagi nggaaaakk.. :p
Assalammualaikum dokter dentaaaa,,
Ceritanya ok punya, ada sesi ngelawaknya juga si,lucu,,,hahahaha ^-^
ga salah deh saya kagum sama dokter yang peka sm pasiennya,
good job dok,,, ^-^
Walaikum salam.. maaf baru sempat merespon.. terima kasih.. semoga bisa jadi inspirasi buat kita semua.. : )
hehe, thank you sudah mampir dah ngasih komen..:-)
Assalammualaikum dokter dentaaaa,,
Ceritanya ok punya, ada sesi ngelawaknya juga si,lucu,,,hahahaha ^-^
ga salah deh saya kagum sama dokter yang peka sm pasiennya,
good job dok,,, ^-^